Selasa, 23 Februari 2016

PROPOSAL RENOVASI MUSHOLLA “ROUDLOTUL SHOLIHIN”

PROPOSAL


RENOVASI MUSHOLLA
ROUDLOTUL SHOLIHIN









DUSUN KRAJAN DESA PENANGGAL
KECAMATAN CANDIPURO
KABUPATEN LUMAJANG

2016

Penanggal, 18 Februari 2016

No         : 01/PRM.RS/II/2016                                                                 Kepada
Sifat      : -                                                                                           Yth. Bapak/Ibu/ saudara
Lamp    : 1 (satu) Bundel
Perihal  : Permohonan Bantuan Dana Pembangunan                           di
                 Musholla Roudlotul Sholihin                                                      TEMPAT

                                                             
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah SWT. Kita memohon pertolongan-Nya dan ampunan serta perlindungan-Nya dari segala keburukan dan kelemahan. Barangsiapa yang diberi hidayah-NYA, tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi, dan barangsiapa yang tidak mendapat hidayah, tidak ada sesuatu pula yang mampu menolongnya. Subhanallahi walhamdulillahi walaa ilaha illallah wallahu akbar.
Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, yang telah menyampaikan risalah-Nya, memberi nasehat dan membawa umat menuju kesempurnaan hidup lahir batin, dunia akhirat. Kita berharap termasuk umatnya yang mendapat syafa'at Beliau, nanti di Yaumil Akhir. Amin
Sehubungan dengan rencana renovasi Pembangunan Musholla Roudlotul Sholihin yang bertempat di Dusun Krajan RT 07 RW 01 Desa Penanggal Kec. Candipuro Kab. Lumajang, Kami selaku  Panitia Renovasi Musholla bersama surat ini bermaksud mengajukan permohonan bantuan kepada Bapak/Ibu/Saudara, Adapun rincian Pembagunan (terlampir).
Demikian surat permohonan bantuan ini kami buat, semoga apa yang telah diberikan Bapak / Ibu / Saudara dengan hati yang ikhlas mendapat balasan dari Alloh SWT. Amien

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

PANITIA RENOVASI MUSHOLLA ROUDLOTUL SHOLIHIN
Ketua Panitia,




H. ACHMAD YULIARDI

Sekretaris




AGUS


Kepala Desa Penanggal




ABDUL HAMID, A.Ma, A.Md

Mengetahui,


Pengasuh Musholla




Ust. MAT ALI RIDHO





Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.( QS Al-Baqoroh ; 261)

I.         PENDAHULUAN
Berangkat dari kondisi Musholla Roudlotul Sholihin saat ini yang memang sudah membutuhkan banyak perbaikkan dan tidak memadainya kondisi fisik bangunan untuk mendukung kegiatan ibadah dan pembinaan ke-Islaman masyarakat sekitar. Untuk itu panitia dengan di dukung segenap masyarakat setempat khususnya ummat Islam sepakat untuk merenovasi bangunan  Musholla Roudlotul Sholihin.
Seperti kita pahami bahwa sejak zaman Rasulullah Muhamad SAW, masjid/musholla bukan hanya tempat ibadah tetapi merupakan pusat kegiatan berdimensi luas. Ketika Rasulullah Saw dan para sahabatnya Hijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau singgah di suatu tempat yang dikenal dengan Quba. Disinilah Rasulullah membangun sebuah mesjid yang diberi nama Mesjid Quba. Begitu juga ketika sampai di Madinah Rasulullah membangun Mesjid Nabawi. Ini semua menunjukan bahwa mesjid memiki kedudukan yang sangat penting bagi kaum muslimin.
Di zaman Rasulullah Saw, mesjid/musholla  menjadi sarana untuk memper-kokoh iman para sahabatnya. Disamping itu, mesjid/musholla juga digunakan sebagai sarana peribadatan dan tempat mengkaji ajaran Islam. Allah berfirman : Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan Shalat, menunaikan Zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk (QS:At-Taubah:8)
Mesjid/musholla mengajarkan kaum Muslimin banyak hal. Dalam shalat berjamaah misalnya, banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil. Roh Jama`i dan kebersamaan, ketaatan kepada pemimpin, tujuan hidup yang satu, kesamaan langkah dan gerak, dan masih banyak pelajaran lainya bisa kita ambil dari tempat yang suci ini.
Kebersihan juga pelajaran penting yang bisa diambil dari roh dan semangat Mesjid. Berangkat ke mesjid/musholla dalam keadaan berwudhuk dan melepas alas kaki ketika memasuki mesjid/musholla. Hal ini mengajarkan kepada setiap pribadi muslim untuk menjaga kebersihan, Setiap mereka harus memulai pekerjaan sehari-harinya dengan niat yang bersih.
Rasulullah saw menjadikan mesjid sebagai sentral ilmu pengetahuan. Dari mesjidlah Rasulullah membina masyarakat baru Madinah. Ahlu Suffah adalah mereka yang banyak mengambil manfaat dari ajaran Rasulullah. Disamping mereka tinggal dibagian belakang masjid mereka juga sangat tekun menghafal hadist-hadist Rasullah Saw. Abu Hurairah adalah salah seorang dari ratusan Ahli Shuffah yang banyak meriwayat hadis dibandingkan sahabat lainya. Tradisi menjadikan mesjid sebagai pusat ilmu pengetahuan ini diteruskan oleh para Ulama Muslimin dalam mengembangkan Risalah Islam setelah wafatnya Rasulullah Saw.
Di era modern sekarang ini kita harus mampu memerankan dan memakmur-kan Mesjid/musholla. Memakmurkan Mesjid/musholla mempunyai dua pengertian. Hissi dan maknawi. Hissi berarti membangun Mesjid/musholla secara fisik, membersihkanya, melengkapi sarana wudhuk dan yang lainya. Sedangkan memakmurkan Mesjid/musholla secara Maknawi adalah meramaikan Mesjid/ musholla dengan shalat berjama`ah, membaca al-quran, i`tikaf, dan ibadah lainya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjadikan musholla sebagai pusat kegiatan dan pengembangan masyarakat.
Dan disamping itu kita harus bisa memposisikan mesjid/musholla sebagai wadah pemersatu kaum muslimin. Menghidupkan kembali peranan mesjid dengan segala macam aktivitas yang telah kita paparkan diatas yang telah terbukti membawa kaum muslim pada puncak peradaban besar.
Wallahu a`lamu bissawab.

II.      DASAR HUKUM
1.        Firman Alloh Swt :
“Hanyalah orang-orang yang memakmurkan masjid-masjid Alllah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, serta tetap mendirikan Shalat, mengeluarkan Zakat dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada Allah. Mereka itulah orang-orang yang diharapkan untuk menjadi orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At Taubat :18).
2.        Sabda Rosululloh Saw :
Barang siapa yang telah membangunkan sebuah masjid, yang sengaja mencari keridhaan Allah, nanti Allah buatkan pula untuknya sebuah rumah di dalam syurga (Hr Bukhari dan Muslim).
3.        Musyawarah Warga RT.07/01 Desa Penanggal Kec. Candipuro

III.   MAKSUD DAN TUJUAN
Maksud dan tujuan Pembangunan Musholla antara lain :
1.        Menyediakan sarana ibadah  bagi umat islam pada umumnya dan warga  RT.007/01 pada khususnya.
2.        Memberikan sarana dalam peningkatan Aqidah ,Aklaqul Karimah serta membina Ukhuwah Islamiyah
3.        Pusat permusyawaratan umum warga
4.        Membentengi kepribadian dan fitrah manusia sebagai mahluk yang diciptakan oleh Alloh SWT sebagai kholifah dimuka bumi ini dengan keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh SWT

IV.   LOKASI
Lokasi Musholla Roudlotul Sholihin berada di Dusun Krajan RT 07 RW 01 Desa Penanggal Kec. Candipuro Kab. Lumajang.

V.      SUMBER DANA
Swadaya Masyarakat Sekitar dan Desa Penanggal pada umumnya.

VI.   SUSUNAN PANITIA
Pelindung                  : Kepala Desa Penanggal
Pengasuh                   : Ust. Mat Ali Ridho
Ketua                         : H. Achmad Yuliardi
Wakil Ketua              : Muhid
Sekretaris                   : Agus
Wakil                         : Edi
Bendahara                 : Adi
Wakil                         : Bpk. Asmad
Anggata /Sie             : 1. H. Siswanto
                                      2. H. Izaz Supandi
3. Bpk. Misdun
4. Bpk. Sugeng
5. Bpk. Bari

VII.     RENCANA ANGGARAN BIAYA
Anggaran Biaya diperkirakan sebesar Rp. 30.000.000 (Tiga Puluh Juta Rupiah)











VIII.  PENUTUP
Demikian proposal pembangunan musholla Roudlotul Sholihin ini kami disampaikan dengan harapan semoga terwujudnya Pembangunan ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan iman dan taqwa kepada Alloh SWT bagi umat Islam, khususnya masyarakat sekitar RT 07/01 Desa Penanggal.
Peran dan partisipasi dari semua pihak sangat di harapkan agar rencana dan pelaksanaan pembangunan dapat berjalan lancar. Semoga proposal ini dapat dijadikan acuan dalam mewujudkan usaha pembangunan Musholla Roudlotul Sholihin, sehingga seluruh warga dapat memperoleh gambaran yang jelas dan lengkap tentang rencana pembangunan ini. Atas dukungan dan bantuan Bapak/Ibu/Saudara kami ucapkan Jazakumulloh khoirun katsiron. Semoga Alloh SWT membalas segala amal serta melipat gandakan pahalanya  AMIN

PANITIA RENOVASI MUSHOLLA ROUDLOTUL SHOLIHIN
Ketua Panitia,




H. ACHMAD YULIARDI

Sekretaris




AGUS

LOGO MTs Roudlotul Musthofa Penanggal


LOGO SMP NEGERI 01, 02, 05 SMA CANDIPURO - PEMKAB LUMAJANG



LOGO SMA NEGERI CANDIPURO


LOGO SMP NEGERI 02 CANDIPURO



LOGO SMP NEGERI 05 CANDIPURO


PEMERINTAH KABUPATEN LUMAJANG


LOGO SMP NEGERI 1 CANDIPURO



Selasa, 11 November 2014

ACARA ADAT TINGKEPAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Tingkeban salah siji keragaman budaya bangsa Indonesia, sampun mboten asing malih kale masyarakat Lumajang lan sekitare, miturut ilmu sosial lan budaya, tingkepan lan ritual-ritual lain sing sejenis yaiku bentuk intisari, sebagai sarana sing digunakno kanggo nglewati kekhawatiran/ kecemasan calon wong tuo (orang tua) supaya terkabule harapan wong tuo waktu ngandung, ngelahirno lan harapan anak sing lahirno mengko. Tingkepan niki sampun wonten nenek moyang sing dereng ngenal agama makane diciptakno ritual sing sarat makna kasebut sampek sak niki tasek diyakini masyarakat Lumajang, meskipun rumit ritual tingkepan niki sehinggo merlokno tenago, pikiran, lan materi serto persiapan lan pelaksanaane kabeh tahap-tahap mesti kudu dilaksanakno, mulai mileh dino, lan tanggal ngelaksanakno kudu menuhi syarat lan ketentuan sing ono, lek dilanggar maka masyarakat sekitar merepon negatif kale hal kesebut.

B.    Rumusan Masalah
a)       Tujuan dilaksanakno upacara adat tingkepan
b)      Apa wae perlengkapan lan pelaksanaane




BAB II
PEMBAHASAN

A.   Sejarahe Tingkepan
Upacara tingkeban iku salah siji saka macem-macem upacaro tradisi masyarakat Jawa, utamané wong-wong ing Yogyakarta. Upacara iki dianakaké kanggo mèngeti sasi kapitu kehamilan - mung - digawe kanggo wanita sing dadi meteng pisanan.
Ing tradisi masyarakat Yogyakarta - loro saka kelas wong umum lan para bangsawan (bangsawan) sing manggon ing istana - upacara penting ritual upacara antara lain. Yen upacara ilangi pirang pirang isi, masyarakat Jawa - utamané wong ing Yogyakarta - percaya sing bakal nimbulaké gangguan kanggo safety saka ibu lan bayi. Kejabi, akeh wong sing nganggep yèn gadhah anak tanpa - sadurunge - upacara diarani tingkeban ngebokake anak: anak madhakaké karo kerbau. Wis diterangake digunakake dening Clifford Geertz ing buku The Religion of Java (20, 45). Mulane, ing umum dibutuhake terus upacara tingkeban malah karo acara prasaja.
Sajarah utawa asal saka upacara ing masarakat Jawa Barat tingkeban - utamané ing Yogyakarta - bakal diterangake minangka nderek:
Ing jaman kerajaan Kediri mrentah dening Raja Jayabaya, ana wong wadon kang aran Niken Satingkeb. Ia nikah karo punggawa kraton dijenengi Sadiyo. Saka iki nikah lair sangang anak-anak. Nanging, kemalangan menimpa mau, amarga saka anak sangang oleh dhowo umure.
Sadiyo lan Niken Satingkeb ora nekat ing nyoba lan tansah ndedongaa, supaya duwe anak liyane, kang bakal ora bisa naas minangka sing sadurungé anak-anak. Kabeh saran lan bimbingan wong-wong sing wis tansah ngeweruhi, nanging ana uga ora ana pratandha istri hamil. Dadi, ing bojomu lan bojoné pergi ke raja kanggo sambat lan dheweke kasusahan lan ngupaya bimbingan yen padha duwe sarana kanggo nglakoni dianugerahi anak liyane sing ora nandhang nasib kang anak-anak sadurungé.
Raja wicaksana iki kena kanggo krungu keluhan Nyai Niken Satingkeb lan bojone. Dadi, kang maringi instruksi sing Nyai Satingkeb - ing basis saben Tumbak (Rebo) lan Buddha (Sabtu) - wis kanggo padusan karo banyu suci dengan gayung ing wangun tengkorak disebut bathok diiringi doa kayata ing ngisor iki:
"Hong Hyang Hanging Amarta, Martini sarwa Huma, ia humaningsun wasesaningsun, Ingsun pudyo Sampurno Dadyo manungso."
Setelah mandi, dheweke ngagem sandhangan sing resik rampung. Banjur dropped loro kelapa gading liwat jarak antarane weteng lan jeroan. Diukir gading kelapa Sang Hyang Wisnu lan Dewi Sri utawa Arjuna lan Sumbadara. Titik iku yen siji dina kang putra lair, dheweke wis pasuryan sing ayu ayu utawa minangka iku ing gambar. Salajengipun, wanita hamil iku kudu kebungkus ing godhong tebu wulung weteng lan banjur Cut karo keris.
Kabeh saran lan usulan saka raja sing latihan kasebut kanthi teliti, lan iku dadi metu kabeh padha takon kanggo diwenehake. Banjur wiwit, upacara turun-temurun, lan dadi prentah kanggo masarakat Jawa tradisi.

B.    Perlengkapan Tingkepan
1.       Bokor di isi banyu sumber pitu, lan kembang setaman kanggo semprotan.


2.       Cangkang (tempurung) minangka cipratan gayung (gayung)
3.       Krim lulur sabun sulih.

4.       Kendi digunakake kanggo siram ing mburi.
5.       Loro cilik andhuk kanggo ngilangke garing lan mati sawise dicuci


6.       Loro lan setengah meter kain digunakake sawise lengkap siram.
7.       Sak iji endhog pitik dibungkus plastik.
8.       Loro cengkir gading cengkir Kamajaya lan Kamaratih utawa Arjuna lan Dewi Wara Sembodro.
9.       Sandhangan Nyamping bhinéka, rong meter saka tenunan utawa janur kuning
10. Sandhangané daleman lan nampan kanggo kebaya lan pitung larangan, lan stagen disusun rapih.
11. Kelengkapan Kejawen Kakung karo siji Pasangan saka kain truntum. Calon bapak dan ibu disandangi rampung kejawen, ibu karo ngeculke rambute lan ora perhiasan.
C.   Urutan Acara Punika Minangka Nderek Tingkepan
1.       Adus, utawa ing Indonesia dibahas mandi,
Sepasang suami istri ados pitu wong kalebu bapak ibu, kakek-nenek dan laki-laki dukun, dukun wanita lan sadulur, iki perlu ngandhut tampilan oraono pangeran lian kang nangging Ingsun ora duwe murbo kangwicono, kang tegese sukses ing urip kulawarga, banyu digunakake kembang setaman perlu ngandhut wujud nyedhiyani padhange aura, seger wewangian lan ayu lan banyu uga ngandhut dhuwit recehan sawise prosesi wis rampung bakal diganggu gugat déning siram bocah cilik, iki tegese menehi akeh.

2.       Pecah kendil (gayung)
Sawise siram, gayung digawe saka klapa bakal ditanggulangi, iki tegese ing gesang (gayung ing URL istri) supaya ditanggulangi minangka simbol dheweke mitra sejati sing ora bisa digunakake utawa diganti liyane.

3.       Ramalan (bledosan Krambil)
Sawise pemecahan suami sendok terus gading kelapa break. Iki tegese minangka nyawang calon apa lanang utawa permpuan, kang bisa dipunlambangaken kumaha Bojone wis kelapa gadiang ngatasi iku, yen mathuk ing tengah banjur padha pracaya marang masa depan wong, yen miring mereng padha pracaya marang masa depan wadon.
4.       Wadang Kokoan
Madang kepompong iku perosesi nikah saperangan mangan piring sing wis diwenehake dening ibu istri, mengko ing meal ing ngarep lawang, banjur ibu tamparan ing piring, iki tegese gesang suami lan istri gadhah kanggo nuduhake namum kudu sopan, adil. Mangan ing ngarep lawang banjur ibu slapped pirinya di migunani pengajaran budi kanggo loro (suami isti) dening ibu minangka tokoh tua sing mangan ing ngarep lawang ora sopan utawa bias rejeki nyandhet entri.

5.       Selametan (berdoa)
Dina iki Selametan ana kudu sawetara wajib mesthi kurban sing
a.       Sego Brok Tingal migunani Panggonan.
b.       Buceng Kuwat migunani supaya ing nifas utawa rauh bakal Kuwat urip ing pasuryan saka alangan ing gesang.
c.       Jenang jenis 4 abang lan putih simbol pitih saudara loro tuwane ireng ireng kuning kuning minangka simbol saka kaki-nini.
d.       Buceng migunani Sengkolo 9 vices digawa dening bayi-bayi, kang yakuwi kanggo ora disturb proses kelahiran lan mengko urip. 9 Sengkolo iku
1)     Kolo lopak kang dipunlambangaken migunani monyet monyet bungkus
2)     Calang bamalo migunani migunani kawah
3)     Minangka WOCO kang dipunlambangaken migunani Cileng plasenta babi
4)     Kolo Pematangawi sing di banteng migunani dipunlambangaken getih
5)     Kolo Morti kang dipunlambangaken migunani kebo penjepit
6)     Kolo Randing kang dipunlambangaken rusa wujud Illu
7)     Kolo wulakas kang dipunlambangaken rusa kunyit landes migunani tembung plasenta
8)     Tikus Ngartekno ceploke jinodlo ari-ari
9)     Co  migunani wangkah usus plasenta
e.        Jenag murub migunani urutan Gangsar lancer
f.         Migunani Buceng 7 7 wulan
g.       Mas panggangan pajeg migunani kanggo ibu
h.      4 ketan abang pitih simbol abang lan putih kanggo kebua tuwane ireng ireng kuning kuning minangka simbol saka kaki-nini.
i.         Asam manis salad migunani gesang
j.         Sewu bubur, migunani dawet kesegaran
k.       Sego punar migunani rak kanca utawa
l.         Banyu putih migunani kesucian
m.    Jenang lahir kang tegese Gamelan lair

Dina iki selametan perosesi iki kurban kudu digawa dening salah siji saka kurban punika wujud relatif utawa sederek gotong sepindah, seduluré sing wis nggawa kurban ngirim ora bisa digawa bali menyang bantuan maneh, iki tegese supaya bareng-bareng nyuda ing kepinginan kanggo dadi padha kabeh kagungan kasempatan, sawise maca dukun lanang doa (mantra Jawa), logam molten kudu lahir rauh di buwang metu cepet, iku migunani yen proses kelahiran mengko cepet metu utawa gampang lahir. Sawise seri ing acara lan makna sambungan tingkepan rampung digarap liyane saka tamu ngirim ora bisa matur pamit kanggo kulawarga yakuwi utawa meaningfully ketulusan ing sharing.

D.   Pesen Moral
A.    Buluh Pontang (noto pikir panting tunggang lan)
Buluh pontang iku panganan sing bakal dadi, kang digawe saka godhong saka wit pisang lan rwaning lan bentuké kaya kapal sing nduweni niat sing kapal berlayar urip kudu ngatur awake dhewe kanggo ngatur kang pikirane minangka laju tunggang langgang lelampahan pethi tansah ngetutake gelombang urip.
Ing basa Jawa wis daun pisang 3 nama tingkatan, yaiku:
1.       Godhong enom disebut mlayu
Ing kapal berlayar urip kudu tansah ngirim menyang Pencipta (kepercayaan), amarga ana manungsa ing donya sing dianakaké lan sing nyetel kang urip, iku kabeh iki dipasrahké kanggo Penguasa moho kuwoso kabeh. Trust kudu katahan ing gerakan lan dekorasi langkah kabeh dina nampa ngimpi kang urip, urip apik ing donya iki lan urip ing akhirat mengko.
2.       Ing godhong sing peteng ijo disebut ujungan
Ing tip saka kiriman basa Jawa wis waé, ing pangertèn pengajuan abdi marang bendarane. utawa pengiriman anak kang rama, ing kasus iki ing titik iku wong kudu menehi piyambak (budak) babar blas kanggo Pencipta, amarga wong wis digawé kanggo ngawula pencipta. Minangka Abraham sumpah dilestarekake ing Quran dan doa iftitah digunakake ing pandonga, 'temene pandonga kawula, kewajiban, gesang kawula lan saya pati murni ngabekti marang Sang Yehuwah saka ing alam semesta.
3.       Godhong padha pepe disebut Klaras
Klaras dadi nglaras migunani urip kudu anteng, ora perlu cepet-cepet supaya saben langkah tansah bebener, amarga yen haste bakal cukup salah lan gampang dadi semrawut. Ing mbeta metu pakaryan minangka kholifatullah manungsa ing bumi iki dadi sabar, sabar ing ibadah, dadi sabar narima bencana lan sabar ing kabeh kahanan, punapa mawon lan Nanging kang wis kanggo padu.

Dadi bisa kanggo mbukak hal-hal tiga are needed bantuan Kabèh, kang ngono dipunlambangaken dening rwaning. Ing basa Jawa rwaning stands sejatining nur. Minangka Allah ngandika ing Al Qur'an Surat An-Nur ayat 35. Dina iki ayat nerangake yen Gusti Allah Nur_Nya bumi lan langit, lan punapa mawon iku dina iku. Nur iku simbol saka pencerahan, wong bakal angel kanggo apa yen kegiatan ing pepeteng, iku dibutuhake ing cahya kanggo menghindari ngengingi fro. Wong sing tansah arep katahan ing peran gaib ing cahya sepi ing urip lan bakal tansah dadi ridlo dalal.



B.     Sudi
Sudi dumadi saka rong suku, yaiku Su lan Dina, kang nduweni makna apik lan ayu, bentuk cumadhang meh podho susu saka wong wadon, sing wis rizqi berarti anak untuk pertama kalinya dipikolehi saka susu. Tujuan cumadhang orang kanggo menehi pangopènan bojoné lan anak-anak (kulawarga) kudu karo halal lan apik luck (halalan thoyyiban).

C.    Jadah
Sundal punika pangan digawe saka beras ketan, kang analog Arab Jadda, kang asalé saka mutiara "wong jadda wajada" kang tegese wong kang serius mesthi bakal kasil. Jawa pepatah "wong kang kang rajin arep merkoleh teteken tundone bakal tinemu".
Teken wis umum digunakake tabuh JV tuwane sing elek ing lumampah, utawa wong wuta digunakake kanggo ngewangi wong ing kaki. Karo wong-wong tanda ora gampang putus asa ing kapal berlayar urip, amarga ana ndhukung piyambak nalika ngalami lemes, utawa yen ing pepeteng, nalika ora mawa cahya peralatan bisa digunakake kanggo nglacak ing peteng supaya alangan ing ngarepe wong.
Ing presentation digawe warna-warni jadah, kalebu putih, kuning, ijo, abang, lan sapiturute, kang duwe maksud:
1.       Putih simbol saka kemurnian, ing gesang tumindake kudu tansah negara saka kemurnian, utama lan njaba. Apa wis sought kanggo dadi suci.
2.       Kuning, iku lambang kebangkitan, sing ing kahanan apa wae lan ing kasus ngirim ora kentekan niat, yen gagal kudu munggah lan nyoba maneh, sinau saka kegagalan saka kedados, yen siji langkah langsung dikoreksi kang kesalahan dan seterusnya.
3.       Ijo iku lambang kamakmuran, berarti sing kabeh karya rampung ing supaya nggawe kemakmuran. Kamakmuran ing pangertèn sing godhongé amba, yaitu supaya éling rahmatan lil 'alamin.
4.       Abang, iku simbol saka wani, siji kudu wani kanggo nindakake tindakan supaya éling masa depan gol, anggere apa iku ora nglanggar norma, utamané norma agama.
Saliyane makna luhur, warna uga wis tujuan macem-macem formulir bisnis utawa profesi, wong ngirim ora terpaku siji jenis bisnis utawa profesi, supaya iku ora gampang dadi wareg lan ora gampang putus asa, minangka ing gesang ing dunya iki sing akèh pilihan bisnis sing bisa dipilih, kanggo memenuhi maksud kang gesang.



BAB III
KESIMPULAN

Upacara tingkeban iku salah siji saka macem-macem upacara  tradisi masyarakat Jawa, utamané wong-wong ing Yogyakarta. Upacara iki dianakaké kanggo mèngeti sasi kapitu kehamilan - mung - digawe kanggo wanita sing dadi meteng pisanan.




DAFTAR PUSTAKA




Pemandian "Tirtosari View"

My Son